|
![]()
Australia berniat memberi bantuan kepada para janda dan anak yatim piatu korban DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh. Niat itu disampaikan langsung oleh Dubes Australia untuk Indonesia, John Mc Carthy, Selasa (11/8) saat ia melakukan kunjungan ke Aceh. "Bantuan dari Pemerintah Australia itu bersifat kemanusiaan,"John Mc Carthy. Hanya saja menurut dia, berapa besar bantuan yang akan diberikan belum dipastikan. Untuk menentukan nilai bantuan tersebut, Pemerintah Australia masih menunggu masukan-masukan, khususnya dari masyarakat Aceh. Diharapkan, bantuan itu nantinya bisa sampai ke yang benar-benar membutuhkan dan bermanfaat. Dalam kunjungannya ke Aceh itu Dubes Australia John Mc Carthy disertai oleh aktivis LSM Forum Peduli Hak Asasi Masyarakat Aceh. Menurut John Mc Carthy, kunjungan ke Aceh itu untuk melihat dan mengamati secara langsung kehidupan masyarakat Aceh. Ia juga mengacungkan jempol kepada Pangab Jenderal Wiranto yang telah memutuskan untuk mengakhiri Aceh sebagai DOM.
Dengan berakhirnya DOM itu, John Mc Carthy yakin
masyarakat Aceh akan lebih tenang dan berada dalam
kehidupan normal. Dan masyarakat Aceh akan lebih bisa
berkonsentrasi untuk melakukan pembangunan di wilayahnya
sendiri. "Setelah DOM berakhir, kini perlu dilakukan
upaya-upaya penyehatan,"katanya.
Gatra, Nomor 41/IV, 29 Agustus 1998 ACEH
Lokasi kuburan massal di Aceh mulai digali. Komnas HAM
berhasil menemukan puluhan kerangka dalam satu lubang.
ABRI minta maaf, dan mulai menarik pasukannya.
INI pembunuhan! Ini pembunuhan! Catat! Ini bukan fitnah
dari LSM atau media massa. Ini Baharudin Lopa yang
bilang!" seru Baharudin Lopa dengan dahi berkerut.
Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM) itu geram saat melihat potongan tulang
manusia berserakan di dalam lubang yang digali di bukit
Ujong Salam, Desa Seuntang, Aceh Utara.
Dari satu lubang itu, ditemukan lima tengkorak utuh, dan 12
pasang tulang kaki manusia. Selain itu, penggalian pada
Sabtu pekan lalu itu juga menemukan beberapa "aksesori"
pembantaian. Misalnya, kain penutup muka, potongan tali
untuk mengikat tangan, celana panjang, dan celana dalam
yang dipakai korban.
Memang, sejak Kamis pekan lalu, tim Komnas HAM terjun
langsung ke Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur, dalam
rangka mengumpulkan bukti-bukti kasus pembantaian di
Aceh. Dalam tim itu Lopa didampingi Koesparmono Irsan,
M. Salim, dan Soegiri. Tim ini dipandu Ketua Presidium
Forum LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Aceh, Abdul
Gani Nurdin, yang pertama kali mengungkap pembantaian
massal tersebut.
Kuburan massal di Desa Seuntang itu terletak 50 kilometer
dari Lho'seumawe. Menurut penuturan warga setempat,
lokasi pembantaian di Bukit Ujong Salam, yang juga dikenal
dengan sebutan Bukit Seuntang itu, dibuat sekitar tahun
1991. Saat itu, di Bukit Seuntang sedang ada proyek
pembuatan saluran irigasi, yang digarap kontraktor PT Sac
Nusantara. Aparatur keamanan lalu meminjam alat berat
milik kontraktor untuk membuat enam lubang berukuran 3 x
3 meter, dengan kedalaman lima meter.
Sejak saat itu, aparatur keamanan sering membawa tawanan
hasil operasi militer Jaring Merah ke Bukit Seuntang. "Orang
tangkapan itu didudukkan di pinggir lubang, ditembaki, dan
mayatnya langsung terjerembap masuk lubang," kata M.
Kasem, imam meunasah (musala) di Seuntang. Kasem ketika
itu bertugas sebagai penjaga alat berat milik kontraktor irigasi
tersebut. Usai membantai korbannya, biasanya, aparatur
keamanan meminjam alat berat untuk menutup kuburan
massal itu.
Yusuf Hasyem, 51 tahun -juga mantan penjaga alat berat
Sac Nusantara-
mengaku pernah melihat tumpukan mayat dalam lubang di
Bukit Seuntang, sebelum diuruk dengan tanah. "Jumlahnya
saya tidak tahu, saya hanya melihat saja, tapi dilarang
menghitung," kata Hasyem. Karena banyaknya mayat tak
dikenal yang dikubur di situ, penduduk pun menyebut lokasi
pembantaian itu sebagai kuburan "Teungku Rame-Rame".
Berdasarkan petunjuk Hasyem pula, Komnas HAM berhasil
menemukan lokasi kuburan massal tersebut. Dari enam
lubang kuburan, tampak tiga lubang telah terpakai, dan
diuruk dengan tanah. Tiga lainnya masih menganga, belum
termanfaatkan. Disaksikan ratusan penduduk dan puluhan
wartawan, tim Komnas HAM menggali salah satu lubang
kuburan massal itu, dan kemudian menemukan puluhan
kerangka manusia. "Ini sungguh persoalan luar biasa," kata
Lopa.
Sehari sebelumnya, tim Komnas HAM juga mengunjungi
kuburan massal di pantai Kuala Tari, Desa Jeumeurang,
Kecamatan Kembang Tanjung. Lokasi pembantaian di
Kuala Tari itu ditunjukkan Usman Ibrahim, seorang warga
Jeumeurang. Usman mengaku pernah ditangkap dan hampir
dieksekusi di Kuala Tari. "Saya dilepas setelah menyerahkan
tebusan 70 mayam emas," kata Usman. Satu mayam sama
dengan tiga gram.
Bersama warga, Komnas HAM kemudian menggali satu
lokasi kuburan, sekitar satu kilometer dari permukiman
penduduk. Baru setengah meter menggali, tampak dua buah
karung pupuk yang terlilit akar. Dari kedua karung itu
ditemukan dua kerangka manusia secara utuh. Kedua
tengkorak itu jelas korban eksekusi, karena salah satu di
antaranya masih mengenakan kain hitam penutup mata. Pada
kedua tengkorak itu juga ditemukan lubang bekas terjangan
peluru.
Seingat warga Jeumeurang, ada sekitar 80 mayat yang
ditanam di beberapa tempat di sekitar itu. Namun, Komnas
HAM cuma menggali satu lubang. "Sudah cukup, ini saja
sudah membuktikan adanya kuburan massal selama DOM,"
kata Lopa. DOM artinya Daerah Operasi Militer.
Kerangka temuan tadi lantas diserahkan kepada tim ahli
forensik Kepolisian Daerah Sumatera Utara, yang datang
bersama rombongan Komnas HAM. Tim forensik inilah yang
bertugas memastikan penyebab kematian korban. "Kita tidak
ingin, orang meninggal karena sakit dikatakan mati
ditembak," kata Koesparmono. Usai diperiksa, kerangka itu
dibungkus dengan kain kafan baru, dan kembali dikuburkan
sesuai dengan syariat Islam.
Dari Jeumeurang, rombongan Komnas HAM bergerak
menuju rumoh geudong,
sebutan untuk sebuah rumah adat Aceh, di Desa Billie Aron,
Glumpang Tiga. Rumah yang dibangun pada 1906 itu adalah
peninggalan Ulee Balang (Panglima Perang) Teuku Radja
Mahkota di Glumpang Minyeuk. Sejak April 1990, rumah
itu digunakan sebagai pos satuan taktis ABRI dalam operasi
militer di Aceh.
Oleh warga setempat, rumoh geudong itu dikenal sebagai
rumah jagal. Sebab, di rumah itulah anggota atau simpatisan
GPK (gerakan pengacau keamanan) disiksa dan dibantai.
Kabarnya, di halaman belakang rumah jagal itu ada kuburan
berisi 12 warga Aceh. Tim Komnas HAM pun menyuruh
penduduk menggali lokasi itu. Ternyata, tanah di situ sudah
gembur, seperti bekas digali. Di tempat itu telah dipenuhi
sampah, dan habis dibakar. Tak jelas ulah siapa.
Yang pasti, tim ini masih menemukan sisa-sisa rambut, tulang
jari kaki, dan jari tangan manusia. Tak ada tengkorak.
"Saudara-saudara sudah saksikan. Ini kerangka manusia, ya,
bukan kerangka kucing," kata Lopa, sambil
mempertontonkan potongan tulang tersebut.
Dari pemeriksaan di dalam rumah jagal itu, Komnas HAM
menemukan seutas rantai yang tergantung pada palang kayu.
Diduga, rantai itu merupakan alat menyiksa para korban.
"Tuhan Mahaadil, saya bisa melihat rantai dan kayu itu,
sehingga laporan kami makin lengkap," katanya.
|