Hasil Sementara TPF Di Aceh Utara: 45 Orang Ditemukan Meninggal, 78 Hilang

LHOKSEUMAWE (BRP): Hasil sementara Tim Pencari Fakta (TPF) pelanggaran HAM dan pemulihan daerah hari ketiga di Aceh Utara Minggu (13/9), 45 orang meninggal dunia dan 78 hilang.

Jumlah anak yatim dari korban ekses Daerah Operasi Militer (DOM) dan keganasan gerombolan bertopeng (GPL), jika pada hari pertama tercatat sejumlah 173 orang, pada hari ketiga Minggu sudah membengkak jadi 321 orang.

"Data ini baru terdaftar di wilayah Timur Aceh Utara sedang di wilayah Barat, divisi tim yang bertugas sampai hari ketiga masih belum membuat rekapitulasi," kata ketua tim B1 Ismail Fatham.

Koordinator tim B.1 - B.2 TS Sani membenarkan, angka para korban yang terus membengkak itu baru tergarap di tiga wilayah kecamatan ujung Timur daerah bumi Malikussaleh tersebut, yakni Kec. Tanah Jambo Aye, Baktiya Lhoksukon, ditambah beberapa orang dari Kec. Seunuddon. "Itupun banyak desa yang masih tersisa di wilayah beberapa kecamatan tadi, sehingga perlu penyisiran ulang," ujar Sani.

Keluhan para korban, menurut TS Sani, sangat menyayat perasaan baik dari para penderita siksaan oknum aparat yang kini sudah tercatat 143 orang, maupun janda yang jumlahnya sesuai daftar sementara sebanyak 111 orang.

"Saya pribadi tidak tahan membendung air mata, ketika mendengar kisah seorang bayi dimasukkan ke dalam karung plastik. Sambil diayun-ayun karung berisi bayi tersebut ditembak sekelilingnya oleh oknum aparat dan sebagian oknum lainnya menyiksa ayah sang bayi itu, bernama Alamsyah Abdullah, warga Desa Arongan AB, Kec. Lhoksukon, sampai akhirnya korban saat ini tidak diketahui jejaknya, lanjut TS Sani sambil menyeka air mata.

Aris Marwan ,15, salah seorang anak yatimm yang ditinggal oleh ayahnya almarhum Hanafiah Abdullah, warga Desa Arongan AB. Korban dibawa aparat tanggal 1 Juli 1990, bersama uang tunai Rp. 15 juta dan 15 gr emas. Sampai saat ini ayah Aris Marwan tersebut tidak diketahui nasibnya, sedang anak yatim tersebut kini menjadi buruh di kebun sawit untuk membiayai ibu dan adik-adiknya.

Memilukan

Juga tidak kurang memilukan kisah nyata yang dialami Ismail ,12, putra almarhum M. Yusuf Husen, warga Desa Meunasah Reudeub, Kec, Lhoksukon. Dia ditembak sekitar 100 meter dari rumahnya oleh segerombolan orang bertopeng, Minggu mmalam tanggal 1 Mei 1993.

Begitu bunyi letusan senjata api, Ismail kecil itu mengambil senter (lampu tangan) menuju arah ayahnya mengaduh di kegelapan malam,, namun tiba-tiba bocah itu disepak segerombolan bertopeng tersebut sampai tak sadarkan diri.

Setelah suara nyalak senapan mereda, sekeluarga korban turut mengangkat jasad yang sudah bolong-bolong tadi. Gerombolan bertopeng itupun menghilang ke semak-semak, sebaik pasukan ABRI datang ke tempat kejadian perkara (TKP), lapor keluarga korban kepada tim pencari fakta Minggu kemarin.

"Ini juga suatu kebiadaban yang tidak kurang sadisnya. Sementara korban separatis Gerombolan Pengacau Liar (GPL) Hasan Tiro lainnya yang kami data hari ketiga, tercatat enam orang lagi yang dibunuh secara zhalim oleh gerombolan bertopeng ini dan rata-rata para korban tersebut meninggalkan anak yatim," tandas Koordinator tim B.1-B.2 TS Sani.

Kecuali itu, tim Pencari Fakta yang dibentuk oleh Bupati Aceh Utara, 8 September 1998 dengan SK No. 320/2037/SK/98 ini juga menemukan korban pelecehan seks oleh oknum aparat dari kesatuan 126. Salbiah, 45, warga Desa Alue Itam Reudeub, Kec. Lhoksukon, 11 Nopember 1992 didatangi pasukan keamanan, ketika korban sedang bekerja di sawah.

Kepada korban ditanyai suaminya Anwar, lalu berlanjut dengan penganiayaan, menyusul suaminya ditembak pada saat itu juga sampai tewas. "Pakaian saya dilucuti hingga bugil, ke lubang vagina dimasukkan ujung senjata, sembari mereka meraba-raba bagian vital lainnya," kisahnya.

Hari keempat, Senin (14/9) hari ini TPF pelanggaran HAM dan pemulihan daerah yang diketuai Sekwilda Aceh Utara, Drs H. Soelaiman Abbas ini, melanjutkan tugasnya menyisir beberapa tingkat kecamatan di wilayah pembantu bupati Lhoksukon.

Make your own free website on Tripod.com