"NASIONALISME INDONESIA"

(SATU NASIONALISME PURA2, BIKINAN IMPERIALISME BARAT UNTUK MELAWAN ISLAM DAN MENGHINDARKAN PEMBUBARAN HINDIA BELANDA ALIAS INDONESIA)

Oleh: Dr. Tengku Hasan M.di Tiro Presiden, Angkatan Atjh/Sumatera Merdka

(Ini adalah terjemah dari bahasa Inggeris: "Indonesian Nationalism: a Western invention to subvert Islam and to prevent decolonization of the Dutch East Indies," yang diucapkan oleh beliau dihadapan Madjilis Seminar Dunia Islam di London, pada 31 Juli, 1985. Acara dari Seminar International itu ialah: "Pengaruh Nasio- nalisme atas Ummat Islam.")

Diterbitkan oleh: NATIONAL LIBERATION FRONT ACHEH SUMATRA 1989

Pengantar

Persoalan atau masaalah "nasionalisme indonesia" tidak dapat dipahami dengan tidak lebih dahulu memahami letak, kedudukan, dan lingkungan ilmu-buminya (geography) yang menentukan hampir segala-galanya. Kerajaan penjajahan Hindia Belanda yang amat luas wilayahnya itu, yang "kesatuan" haram wilayah penjajahannya masih juga tetap dipelihara sampai hari ini, nyakni dengan tidak dibebaskan dan tidak dimerdekakan. Kerajaan penjajahan ini telah dapat dipelihara, disambung, dan diteruskan dengan hanya menukar namanya saja, dari Hindia Belanda menjadi "indonesia". Perlu diketahui bahwa Kerajaan penjajahan ini bukanlah satu kesatuan yang seharusnya, bukanlah satu kesatuan yang patut menurut ilmu-bumi politik (geopolitics). Seluruh wilayah dan pelosok Kepulauan Melayu atau Dunia Melayu ini sudah diletakkan kebawah satu Kerajaan penjajahan semata-mata dengan pedang Belanda yang berlumur darah kita, yang dimulai dari abad ke-16 (1599) dan yang masih diteruskan sampai sekarang, walaupun sejak 27 desember, 1949, pemerintahan sehari-hari telah diserahkan oleh Belanda kepada orang2 Jawa yang bekerja untuk kepentingan politik/ekonomi/ strategi negara2 imperialis Barat, atas nama satu bangsa pura2 yang dibuat-buat oleh mereka sendiri, itulah "indonesia". Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang lalu adalah benar sekali ketika ia menulis bahwa "indonesia itu tidaklah berarti apa2 selain sebagai satu sebutan arah diatas peta bumi saja, sampai pada waktu Belanda menyadari bahwa lebih besar untung (laba) baginya kalau seluruh Kepulauan Melayu disatukan dibawah sebuah pemerintahan penjajahan." ("Indonesia was nothing but a geographic expression until the Dutch found out it more efficient to unite the islands of the Indies under a single administration.")(1). Sesungguhnya inilah asal-usul, biang keladi, dari apa yang dinamakan "bangsa indonesia" dan "nasionalisme indonesia" yang dibikin-bikin dan yang dibuat-buat semata-mata untuk membenarkan "kesatuan" pemerintahan penjajahan, untuk membenarkan "kesatuan" perkiraan laba/rugi, kredit/debit, dari satu Keradjaan penjajahan yang maha luas di dunia sekarang ini. Selama wilayah sesuatu Kerajaan/Negara tetap dipelihara, maka Kerajaan/Negara itu tetap berdiri dan tetap hidup sebagai sediakala, - tidak bubar! - walaupun namanya ditukar dengan nama baru, seperti nama Hindia Belanda sudah ditukar dengan nama "indonesia": atau nama sipenjajahnya ditukar dari "Van Mook" dengan "Suharto" atau lain2 lagi. Sebagai satu sebutan nama arah di peta bumi, nama "indonesia" menunjukkan kepada satu wilayah permukaan bumi yang panjangnya sama sebagai antara Moskow dengan Lissabon, dan lebarnya sama sebagai antara Rome dengan Oslo, dengan penduduk lebih dari 170 juta jiwa, yang terdiri dari berbagai bangsa, berbagai bahasa, berbagai budaya, yang sama banyaknya sebagai terdapat di benua Eropa, juga luasnya sama dengan wilayah yang disebut secara umum sebagai "indonesia" itu. Maka sebagaimana adalah bodoh sekali untuk berbicara tentang adanya satu "nasionalisme Eropa" pada hari ini, demikian juga adalah sangat bodoh sekali untuk berbicara tentang adanya satu "nasionalisme indonesia", walaupun hal ini sudah dipropagandakan oleh surat2 kabar Barat, dan oleh mereka yang menganggap dirinya "pandai", padahal mereka sama sekali tidak memahami sejarah, budaya, sociology dan geopolitics dari Dunia Melayu.

Islam dan Hindia Belanda

Hanya satu perkara saja yang ada persamaan, yang dapat mempersatukan berbagai bangsa yang menjadi penduduk Hindia Belanda, yaitu Islam: yang menjadi agama 95% dari mereka itu. Tetapi sudah terang, mustahil bagi Belanda untuk mendasarkan persatuan penduduk jajahannya itu atas Islam, yang sejak masa kedatangannya yang pertama kali sudah menjadi musuhnya yang nomor satu!(2). Bukankah sebenarnya Belanda sudah merampas wilayah2 ini dari tangan Kerajaan2 Islam, dalam perang penjajahan yang berlumur darah? Hindia Belanda alias "indonesia" telah didirikan atas perampasan wilayah Kerajaan2 Islam: Banten, Demak, dan Mataram di pulau Jawa; Banjar di Kalimantan; Bone dan Makassar di Sulawesi; Ternate di Maluku; dan achirnya Kerajaan Islam Atjeh di Sumatera, dimana Belanda mangalami peperangan yang terbesar dalam sejarahnya! Sebagaimana sudah ditulis oleh ahli sejrah Belanda sendiri, Paul Vant Veer: "Bangsa Belanda dan negeri Belanda tidak pernah menghadapi satu peperangan yang lebih besar dari pada peperangan dengan Atjeh. Menurut panjang waktunya, Perang Atjeh dapat dinamakan Perang delapan-puluh tahun. Menurut jumlah korbannya - lebih seartus-ribu orang yang mati - Perang Atjeh ini adalah satu kejadian militer yang tidak ada bandingannya dalam sejarah bangsa Belanda. Untuk negeri dan bangsa Belanda, Perang Atjeh ini lebih dari hanya pertikaian militer: selama satu abad inilah masalah dan persoalan pokok politik internasional, politik nasional, dan politik kolonial Kerajaan Belanda. Sebenarnya sudahlah menjadi terang-benderang bahwa dalam bagian dunia yang secara umum dan tidak berketentuan disebut sebagai Hindia Belanda ("indonesia") tidak ada satu kerajaan-pun yang dapat disamakan atau yang dapat dibandingkan dengan Kerajaan Atjeh. Ini sudah kita tahu sekarang. Satu peperangan yang lamanya lebih setengah abad, seratus ribu orang mati, dan setengah miljard Rupiah Belanda abad ke-19 yang mahal itu sudah habis untuk biaya, sudahlah menjadi bukti dari perkara ini. Kita sudah tahu ini sekarang. Tetapi kita tidak tahu itu ditahun 1873. Biarlah kenyataan2 ini tegak berdiri - djangan disembunyikan! - supaya orang2 di negeri Belanda, atau lebih2 lagi di pulau Jawa, dapat mengatahui dan dapat memahami bangsa Atjeh itu manusia yang bagaimana!"(3) Tetapi bangsa Atjeh adalah Ummat Islam yang sungguh2 dan sebenarnya. Mereka adalah bukti yang hidup dari kekuatan Islam di Dunia Melayu. Panglima besar tentera Belanda, General Van Switen, yang memimpin serangan Belanda yang kedua ke Atjh, tahun 1873/1874 (General Kohler yang memimpin serangan Belanda yang pertama dihukum mati oleh Negara Atjeh!) dan dialah yang sudah di-elu2kan di negeri Belanda sebagai "Penakluk Atjh" ("Conqueror of Acheh") - ternyata agak tergesa-gesa - akhirnta Van Swieten telah membuat kesimpulannya sebagai berikut, yang mana telah diumumkannya dengan terang-terangan: "Tidak ada jalan untuk mengalahkan bangsa Atjh dalam perang!" Sebab itu ia mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk menarik mundur tentra Belanda dari Tanah Atjeh dan supaya menyelesaikan permusuhan dengan Kerajaan Atjeh secara diplomasi, dengan perundingan.(4) Usul Van Swieten tidak diterima oleh pemerintah Belanda. Sebab itu peperangan telah berjalan terus-menerus berbilang keturunan. Kekalahan Belanda yang terus-menerus di Atjeh akhirnya membawa Christian Snouck Hurgronje ke depan. Ia adalah seorang orientasi (ahli dalam ihwal negeri2 Timur) dan ahli ilmu agama Islam - menurut ukuran mereka. Pemerintah Belanda meminta nasihatnya: bagaimana akal, tipu-muslihat, untuk dapat menaklukkan bangsa Atjh, kalau dia benar2 tahu Ilmu2 agama Islam. Hurgronje dianggap sebagai seorang "genius" oleh banyak bangsa Belanda, hingga oleh Multatuli, seorang penulis Belanda yang terkenal dikatakan bahwa Hurgronje adalah orang nomor dua pentingnya dalam sejarah penjajahan Belanda, dalam abad ke-19. Ini menunjukkan pula betapa pentingnya kedudukan Islam di Hindia Belanda - bahkan dalam pandangan Belanda sendiri. Kunci kekuasaan di Dunia Melayu adalah bagaimana mengendalikan politik Islam. Dikalangan kaum orientalist dunia memang Hurgronje dianggap sebagai satu diantara dua orientalist Eropa yang paling terkemuka di abad ke-19. Yang satu lagi ialah Ignac Goldziher, dari Hongaria. Oleh pemerintah Belanda diminta supaya Hurgronje memakai ilmu Islamnya untuk menaklukkan Ummat Islam bangsa Atjeh, yang sudah ternyata tidak dapat ditaklukkan dengan kekuasaan militer itu. Surat-Perintah dari Kerajaan Belanda kepada Horgronje berbunyi sebagai berikut: "Untuk mempelajari dan menyelidiki hal-ihwal/keadaan partai2 agama di Atjeh, sesudah sjahid Tengku Thik di Tiro (Muhammad Saman), dan untuk mengatahui kedudukan mereka yang baru serta rencana2 mereka, dan mebuat usul2, anjuran-anjurannya kepada Kerajaan Belanda."(5) Oleh pemerintah Belanda sudah diharap-harapkan bahwa dengan syahidnya Wali Negara Atjh, Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, pada tanggal 25 January, 1891, perlawanan bangsa Atjh akan berakhir. Tetapi ternyata hal itu tidak terjadi. Perlawanan terhadap Belanda berjalan terus. Itulah sebabnya maka Hurgronje telah dikirim ke Atjh. Akhirnya Hurgronje gagal juga di atjh, tidak berhasil mencapai maksud dan dtujuannya sebab Ummat Islam Atjeh tidak bersedia bekerja sama dengan dia. Tetapi walaupun kegagalannya di Atjeh, Hurgronje akhirnya muncul sebagai pembuat "politik Islam" Kerajaan Belanda di "indonesia". Usul2nya diterima dan menjadi politik rasmi dari Kerajaan Belanda sampai saat yang terakhir, waktu Belanda menyerahkan "kedaulatan"nya kepada boneka2 Jawanya pada 27 Desember, 1949.

"Politik Islam" Belanda

Oleh Christian Snouck Hurgronje sudah digariskan satu "politik Islam" yang tegas2 sekali memusuhi Islam, untuk dijalankan oleh Pemerintah kolonial Hindia Belanda/"indonesia" Jawa, yang garis besarnya sebagai berikut: Islam sebagai agama politik harus dihancurkan sama sekali, dengan cara perlahan-lahan dan tidak terang-terangan, tegasnya dengan cara "bijaksana": segala sesuatu di Hindia Belanda/"indonesia" harus dipisahkan dari agama, untuk menghilangkan pengaruh Islam, dan memasukkan pengaruh Barat sehingga akhirnya kebudayaan penduduk Hindia Belanda/ "indonesia" akan sama dengan kebudayaan bangsa Belanda. Atas dasar persamaan kebudayaan itu nanti maka akan diadakan satu "kesatuan"/"uni" - satu pemerintahan bersama yang yang tetap dan kekal antara negeri Belanda dan Hindia Belanda/ "indonesia" dibawah mahkota Belanda. Dengan demikian Hindia Belanda/ "indonesia" akan menjadi jajahan Belanda sampai akhir zaman. Untuk berhasilnya politik ini, maka Ummat Islam di Hindia Belanda/"indonesia" harus dipisahkan dari Ummat Islam di bagian dunia yang lain; jemaah Haji "indonesia" ke Makkah harus dikendalikan; pelajar2 yang pergi ke Mesir, dan negara2 Islam yang lain harus dipersukar dan semua dicatat dan diamat-amati bila mereka kembali ke wilayah mereka masing2 di Hindia Belanda/"indonesia". Hurgronje mengizinkan pemakaian kekerasan/ kekuasaan untuk memisahkan agama dari politik, dan sebagai musuh yang paling berbahaya bagi Belanda dalam lapangan agama dan politik, dan sebagai musuh yang tidak dapat dipengaruhinya, supaya dipukul, dianianya sesakit-sakitnya, dihinakan semalu-malunya, supaya kepercayaan kepada diri sendiri yang besar dikalangan bangsa Atjh dapat dihancurkan, dan kehormatan kepada diri-sendiri yang juga besar pada bangsa Atjh supaya dapat ditiadakan. Kata Snouck Hurgronje: "De Atjehers gevoelig te slaan en zon hun superioriteitswaan te ontnemen." ("Orang2 Atjh mesti dipukul sesakit-sakitnya dan sepedih-pedihnya hingga melukai badan dan perasaannya untuk menghancurkan perasaan harga-diri mereka yang tinggi itu.") (6) Ini adalah satu nasihat yang ganjil sekali datang dari seorang ahli ilmu ketuhanan, dari seorang ahli agama, dari seorang orientalist, seorang professor, seorang cerdik: semua ini adalah topeng belaka yang dipakai oleh Hurgronje-yang-sebenarnya, yang tidak lain dari pada seorang algojo, seorang "intellectual mercenary", polisi dan mata2 rahsia kolonialisme Barat yang menyamar dibalik gelar2 "academics". Dari apa yang sudah ditulis oleh Hurgronje kita ketahui bahwa ia membenarkan terrorisme negara (state terrorism) yang dirancangkan oleh Hurgronje masih dijalankan sampai sekarang oleh negara penjajahan "indonesia" Jawa. Sebagaimana Hurgronje sendiri sudah gagal di Atjh, juga taktik terrornya terhadap Ummat Islam Atjh sudah gagal sama sekali sebab hal itu makin memperkuat tekad bangsa Atjh untuk mati syahid, dan memperhebat perlawanan mereka terhadap Belanda. Hurgronje, sesudah beberapa tahun hidup di Atjh di asrama2 serdadu Belanda kembali ke Jawa dengan tidak mendapat hasil apa2. Di Jawa ia menyambung pekerjaannya sebagai penyusun "politik Islam"nya yang gagal di Atjh ternyata dapat dijalankan di wilayah2 Hindia Belanda/"indonesia" yang lain diluar Atjh. Kesimpulannya, dengan pendek, Islam yang diizinkan di Hindia Belanda/ "indonesia" Jawa menurut penetapan Hurgronje ialah yang bersifat ibadat saja. Pendidikan anak2 dipisahkan dari Islam. Pelaksanaan dari politik anti-Islam ini, dengan kepurusan dan pilihan Hurgronja sendiri, dipercayakan kepada golongan "bangsawan" Jawa, satu golongan yang menurut Hurgronje, bersedia dan sanggup membuat Ummat Islam untuk menjadi tidak-Islam lagi, dan membuat mereka menjadi ke-barat-baratan sebagaimana dikehendaki oleh rencana "Politik Islam" Belanda. (7) Tetapi ketika Hurgronje mengizinkan hanya apa yang disebutnya "Islam ibadat" atau "Islam Upacara" saja, ia sebagaimana sudah mengizinkan segala-galanya juga, sebab ibadat dalam Islam tidak sama dengan ibadat dalam agama2 lain, yang hanya bersifat upacara belaka. Ibadat bagi Ummat Islam adalah sumber, laksana mata air, yang hidup, bergerak dan mengalir, menyiram akar2 Iman, dan menghidupkannya kembali, dalam segala keadaan, dimana saja. Ibadat dalam Islam adalah satu pembaharuan tahunan, bulanan, mingguan, harian, sampai kepada jam dan detik, bagi seorang Muslim yang menjalankannya, yang akan memperbaharui iktikad dan semangatnya untuk hidup dan mati dalam Islam! Hal ini yang tidak dipahami oleh Hurgronje sebab ia bukan seorang Muslim! Bagaimanapun juga, rencana Hurgronje sudah dijalankan dengan paksaan sebagai "politik Islam" Belanda atas Ummat Islam di Hindia Belanda/ "indonesia" sampai pecah Perang Dunia ke-II, dan kembali dijalankan ketika Belanda kembali kesana dari tahun 1945 sampai tahun 1949. Dan dari tahun 1949 sampai sekarang, "Politik Islam" Belanda ini sudah diteruskan sebagai "Politik Islam indonesia Jawa" atas Ummat Islam. Sudah tentu Belanda ingin tetap memelihara setiap jengkal tanah jajahan yang sudah dirampasnya tetap dalam tangannya dibawah satu pemerintahan yang berpusat di Jakarta, karena itulah cara yang paling murah dan paling banyak mendatangkan wang masuk kepadanya. Tetapi hal ini tidak dapat dikekalkan dengan tidak satu ikatan batin, ikatan kepercayaan, persamaan ideologi, yang dapat mempersatukan penduduk yang terdiri dari berbagai bangsa itu. Sedangkan persatuan atas dasar Islam sama sekali tidak dapat diterima oleh Belanda, sebab akhirnya akan membahayakan penjajahannya sendiri. Sebab itu Belanda harus memajukan satu budaya dan ideologi baru yang berakiblat ke Barat dan jauh dari Islam. Ideologi yang diperlukan ini tidak lain dari pada mengadakan satu "nasionalisme indonesia" - kalau bisa diadakan. Tetapi satu pertanyaan besar masih belum dapat dijawab: bagaimana mungkin dapat diadakan satu "nasionalisme" dalam sebuah Kerajaan penjajahan, yang penduduknya terdiri dari berbagai bangsa yang mempunyai berbagai budaya, dan dalam wilayah yang begitu luas, sama luasnya dengan benua Eroipa? Jika satu "nasionalisme Eropa" masih belum dapat diadakan sampai sekarang walaupun adanya latar-belakang kebudayaan Eropa yang dianut dan diterima oleh semua, dengan sistem perhubungannya yang lancar, dan wilayahnya yang bersambung-sambung, bagaimana bisa di-angan2kan pembikinan satu "nasionalisme indonesia" atas permukaan bumi yang tidak bersambung-sambung, 93% daripadanya terletak diseberang lautan lepas dari pulau Jawa, sampai dua-tiga ribu kilometer jauhnya, yang terdiri dari pulau2, yang hampir tidak mepunyai alat perhubungan antara satu dengan yang lainnya, yang berbahasa lain, berbudaya lain, ber-ekonomi lain, dan bersejarah lain2 pula? Persatuan dibawah naungan bendera Islam adalah yang sepatut-patutnya dan memang dikehendaki oleh golongan yang terbanyak dari segala bangsa, tetapi itu bertentangan 100% dengan tujuan Belanda dan akan dilawannya habis-habisan! Suatu "persatuan" yang semata-mata berdasarkan atas pedang Belanda yang berlumur darah itu tidak akan kekal: hal ini diakui oleh semua orang Belanda. Sebab itulah maka pembikinan satu "nasionalisme indonesia" yang sudah dibersihkan dari semua pengaruh Islam mendapat tunjangan dari semua pihak Belanda, kiri, kanan, dan tengah, kecuali yang sangat keras kepala.

"Nasionalisme Indonesia"

Meskipun segala pertentangan diatas tidak dapat diatasi sama sekali, namun satu "nasionalisme indonesia" pura-pura, yang tidak berketentuan asal, tanah, akar, dan batangnya, apakah di Sabang, atau Marauke, atau Menado, atau Kupang, ke-empat penjuru dunia ini jauhnya ribuan kilometer dari satu dengan yang lain, dan terdiri dari bukan saja dari bangsa2 yang berlain-lainan, tetapi juga dari jenis manusia (race) yang berbeda pula, sehingga kalau ini dinamakan "nasionalisme indonesia" maka seluruh bulatan bumi ini dapat dimasukkan "indonesia": tegasnya dapat di "indonesia"kan. Dari pandangan ilmu geografy ini satu kemustahilan; dari pandangan ilmu sociology ini satu perbuatan pura-pura; dari pandangan ilmu ekonomi ini mengetawakan. Ini namanya bukan "nasionalisme" tetapi imperialisme: untuk membenarkan penjajahan belaka, yaitu penjajahan oleh bangsa yang menguasai pusat pemerintahan di pulau Jawa. Nasionalisme yang sebenarnya berarti pembatasan wilayah/daerah, dan pembatasan siapa2 yang dapat ikut setia. Tetapi "nasionalisme indonesia" bermakna penguasaan wilayah/daerah, dan penghancuran bangsa2 yang memiliki wilayah/daerah itu. Teranglah sudah bahwa "nasionalisme indonesia" bermakna pengluwasan wilayah/daerah, dan penghancuran bangsa2 yang memiliki wilayah/daerah itu. Teranglah sudah bahwa "nasionalisme indonesia" itu mula2 diadakan untuk memelihara kesatuan Hindia Belanda, dan sekarang untuk membenarkan penjajahan Jawa. sekarang ini "nasionalisme indonesia" sudah dijadikan dasar ideologi negara untuk menjamin/membenarkan penguasaan bangsa Jawa atas tanah2 bangsa2 lain diluar pulau Jawa! Apa yang sudah terjadi ialah bahwa "nasionalisme indonesia" yang mustahil dan tidak mungkin diada-adakan, sudah dijadikan topeng untuk menutup-nutup nasionalisme Jawa, dari golongan yang sekarang menguasai negara "indonesia", yang maksud, tujuan, dan kepentingan mereka dikemukakan sebagai tujuan dari "nasionalisme indonesia" itu, supaya mudah diterima oleh bangsa2 lain yang bukan Jawa, yang sudah terjajah. Semua simbol dari apa yang dinamakan "nasionalisme indonesia" sebenarnya adalah simbol kejawen, - simbol dari pada nasionalisme Jawa dan mencerminkan kepentingan politik, ekonomi, dan budaya bangsa Jawa semata-mata. Nama "nasionalisme indonesia" hanya dipakai sebagai topeng semata-mata untuk menipu bangsa2 seberang lautan yang kesadarn politik mereka masih dalam Angka Nol, Zero, kosong! Apa yang sudah terjadi ialah kepentingan dari hanya satu bangsa (bangsa Jawa!), kepentingan dari hanya satu daerah (pulau Jawa!), kepentingan dari hanya dua provinsi (Jawa Tengah dan Jawa Timur!), kepentingan dari hanya 3,5% dari wilayah apa yang disebut "indoensia" sudah dikemukakan, sudah ditonjolkan sebagai kepentingan "nasional indonesia"! Sedang kepentingan dari 96,5% dari wilayah2 "indonesia" yang bukan Jawa, dan kepentingan dari bangsa2 yang bukan Jawa sudah dipersetan sama sekali! Tegasnya - kalau perkara ini bisa lebih ditegaskan lagi - kepentingan khusus bangsa Jawa sudah dibiarkan memperkosa kepentingan umum bangsa2 Dunia Melayu diluar pulau Jawa! Perhatikanlah: semua simbol dari "nasionalisme indonesia" itu dinyatakan dengan lidah Jawa: ideologi negara disebut "pancasila"; semboyan "nasional indonesia" disebut dalam bahasa Jawa "Bhinneka Tunggal Ika"; nama bintang2 kehormatan negara "indonesia" semua dalam bahasa Jawa; kedudukan pahlawan "nasional indonesia" kelas satu diberikan hanya kepada orang2 Jawa, walaupun mereka itu, menurut sejarahnya, lebih patut diberi nama satu budak-belian, dari pada satu bangsa pahlawan; semua jabatan2 penting dalam negara "indonesia" hanya dipegang oleh orang2 Jawa, dari Presiden sampai ke Menteri2 dan bawahannya; orang2 yang bukan-Jawa hanya diberikan jabatan2 yang tidak penting dan bersifat sebagai patung saja; sistem dan nama2 simbolis dalam administrasi negara disebut dalam bahasa Jawa, seakan-akan ini adalah satu negara Jawa, bukan satu negara "indonesia". Umpamanya: "desa", "lurah", "kecamatan", "camat", "kabupaten", "bupati", dan lain2 sebagainya. Bahasa rasmi dari negara "indoensia" masih belum bahasa Jawa, tetapi ini karena dipaksa oleh keadaan semata-mata: tak ada orang yang mengerti bahasa Jawa dalam 96,5% dari wilayah "indonesia". Karena itu mereka masih terpaksa memakai bahasa Melayu! Itupun sampai ditukar namanya menjadi "bahasa indonesia" - seakan-akan untuk menjamin kepalsuan 100% dari segala apa yang disebut dengan nama "indonesia" itu! Bangsa Jawa adalah dalam kedudukan yang paling baik untuk memperalatkan "nasionalisme indonesia" untuk kepentingan mereka sendiri oleh karena beberapa sebab: pertama, mereka adalah golongan yang sengaja dipilih oleh Belanda untuk mengekalkan dan menyambung penjajahannya dan menjalankan "politik Islam"nya. Ingat kepada apa yang telah dikatakan oleh Snock Hurgronje. Tetapi bukan Hurgronje saja yang berkata demikian. Edward D. Dekker, seorang pengarang Belanda yang kenamaan telah menulis pula: "Melayani Tuan-nya, itulah Agama bangsa Jawa!" Kedua, mereka adalah termasuk golongan yang lebih ramai, walaupun bukan yang terbanyak, bukan majority, tetapi hanya plurality, dalam istilah democracy. Ketiga, sebab negeri mereka di pulau Jawa yang telah dipilih oleh Belanda menjadi "pusat" pemerintah penjajahannya, karena pulau Jawalah yang lebih dahulu dapat dijajahnya, karena bangsa Jawa tidak memberi perlawanan kepada Belanda, dan sebab Belanda percaya kepada kesetiaan orang2 Jawa kepadanya. Semua ini memberi kemudahan kepada bangsa Jawa untuk merebut pemerintah "pusat" dari kerajaan kolonial yang diberi nama "indonesia". Dan ke-empat, memang kepada bangsa Jawalah Belanda telah menyerah "kedaulatan" yang dipunyainya atas seluruh Hindia Belanda ("indonesia") pada tanggal 27 Desember, 1949, - dengan tidak mengindahkan hak bangsa2 lain yang sudah dijajahnya, dan dengan tidak mengindahkan kedudukan hukum yang terpisah dari pulau Jawa dari kepulauan Melayu yang lain2. Sampai2 Negeri Atjh yang tidak pernah ditaklukkan oleh Belanda, dan yang Belanda tidak pernah menginjakkan kakinya disana sejak tahun 1942, juga dimasukkan - atas kertas - sebagai satu dari wilayah2 tanah jajahannya yang pada tahun 1949 itu diserahkan kepada regime Jawa yang sama sekali tidak berhak menerimanya, dan Belanda tidak berhak memberinya. Dengan terusirnya Belanda dari Atjh pada tahun 1942, maka Negeri Atjh dengan sendirinya, automatic, sudah merdeka kembali, sebagaimana sebelum Belanda datang. Inilah status Atjh dalam Hukum Internasional! Dengan perbuatannya itu, Kerajaan Belanda sudah melanggar segala aturan hukum Internasional yang berlaku dan juga melanggar Hukum Decolonization (Hukum Wajib Memerdekakan Segala Jajahan) dari PBB, yang melarang pemindahan kedaulatan atas tanah jajahan dari satu penjajah kepada penjajah yang lain, dan yang menyatakan bahwa kedaulatan atas setiap tanah jajahan ada pada bangsa asli tanah itu sendiri, dan tidak ada pada tangan sipenjajah yang wajib memerdekakan tanah jajahan itu dengan tidak bersyarat apa2. (8) Tetapi alasan2 ideologi Belanda mungkin berjalan lebih jauh dari pada perhitungan ekonomi dan politiknya semata-mata: sebab jika Belanda menyerahkan Negeri Atjh kembali kepada bangsa Atjeh pada waktu itu, maka Atjh akan menjadi Negara Islam yang pertama didirikan kembali di Asia Tenggara dan Dunia Melayu! Semua yang sudah terjadi itu tidak mengobah kenyataan bahwa tanah bangsa Jawa (Jawa Tengah dan Jawa timur) hanya merupakan 3,5% dari wilayah "indonesia"; dan kalau dihitung termasuk tanah Sunda (Jawa Barat) maka menjadi 7% dari wilayah "indonesia". Jadi 93% dari wilayah "indonesia" adalah diseberang laut lepas, ribuan kilometer jauhnya dari pulau Jawa, dengan penduduknya terdiri dari berbagai bangsa yang tidak mempunyai hubungan bahasa, budaya, dan sejarah dengan bangsa Jawa. Kenyataan2 ini bermakna bahwa 93% dari wilayah "indonesia" adalah wilayah2 seberang lautan. "Makna yang paling singkat dari pada istilah kolonialisme (penjajahan) ialah pemerintahan yang dilakukan atas bangsa2 yang berlainan, yang diam di wilayah2 yang dipisahkan oleh air asin (lautan) dari pemerintah pusat kaum imperialis (penjajah)." ("Colonialism is rule over peoples of different race inhabiting lands separated by salt water from the Imperial center.") (9) Demikianlah, untuk membuat satu "nasionalisme" palsu kelihatan dan kedengaran se-akan-akan benar, maka sebuah nama sebutan-arah dipeta bumi sudah dipanggil sebagai satu "negara" dan sebagai satu nama "bangsa" se-akan-akan benua Eropa bisa dinamakan satu "bangsa" dan "Timur Tengah" bisa dipanggil satu "negara". Bahasa Melayu, satu bahasa Sumatera, sudah dirampas dan disandra, sesudah itu ditukar namanya menjadi "bahasa indonesia" walaupun bangsa Jawa tidak pandai memakainya, apalagi menulis dan memahaminya, maka akibatnya sekarang mereka sudah merusak-binasakan bahasa dan sastera Melayu hingga tidak dapat kita kenal lagi: mereka sudah membuat bahasa Melayu kita sebagai bahasa Pidgin English - bahasa Inggeris-Pulau-Pidgin, yang menertawakan orang2 yang mendengarnya. Apa yang sekarang mereka sebutkan sebagai bahasa "bahasa indonesia" alisa bahasa Melayu-Jawa adalah semacam "Pidgin Malay" yang tata-bahasa, saraf dan adabnya - satu bahasa yang bersejarah dan berperadaban Islam - sudah dilanggar, susunan dan tata-tertibnya sudah dikacau-balaukan. Sekarang bahasa kita ini sudah dicampur-adukkan dengan bahasa asing yang tidak dapat dikunyah dan tidak dapat dicernakan, laksana beras yang sudah dicampur-adukkan dengan kerikil dan kotoran sampah asing hingga tak dapat dipahami lagi oleh orang2 kita dikampung2 ataupun dikota2. Apa yang dinamakan sebagai "bahasa indonesia" sekarang sudah menjadi satu bahasa yang kasar, yang tidak cocok lagi untuk menulis syair, sastera, atau pertukaran fikiran yang dalam2 untuk bangsa2 Melayu. untuk maksud2 ini kita harus kembali kepada bahasa Melayu yang asli sebagaimana yang terdapat di Sumatera. Sekarang marilah kita lanjutkan penjelasan dari alat2 yang dipakai untuk memajukan propaganda "nasionalisme indonesia" pura2 itu: sebuah bendera Polandia yang dibalikkan atas-ke-bawah dinaikkan sebagai "bendera indonesia". Inilah satu bendera dengan tida ada sejarah dan dengan tidak ada kemegahan. Tetapi sampai sekarang sudah begitu banyak pembunuhan dan penyembelihan atas bangsa2 yang bukan Jawa sudah dilakukan dibawah naungan "bendera indonesia" ini, seperti di Atjh, Sulawesi, Maluku, Papua Barat dan Timor Timur, sehingga bendera "indonesia" Jawa ini sudah melambangkan simbol perampok dan simbol pembunuh diseluruh Kepulauan Melayu. Disamping itu ada pula lagu kebangsaan "indonesia raya" yang dicuri dari lagu berbaris anak2 sekolah di Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Yale Boola-boola, yang di Amerika sering dimainkan waktu pertandingan sepak bola. Dan simbolisme kelas tiga ini ditutup dengan satu pernyataan kemerdekaan (proklamasi!) yang terdiri dari dua kalimat, kosong dari segala cita2 politik dan filosofi. Dikalangan bangsa2 yang beradab dan bertamaddun, pernyataan kemerdekaan adalah satu simbol, disamping benderanya, disana dinyatakan dan dibuktikan ketinggian moralnya dan kebenaran perjuangannya. Tetapi "proklamasi" kemerdekaan "indonesia" Jawa hanya berupa satu warta-berita-pendek, satu news bulletin! Keseluruhannya hampir bisa dianggap sebagai satu lelucon yang berhasil kalau tidak karena darah bangsa2 yang tidak bersalah yang telah ditumpahkan oleh regime penjajah Jawa "indoensia" itu sejak hari pernyataan penjajahan baru kepada bangsa2 yang bukan-Jawa di Kepulauan Melayu! Kejadian2 diatas telah membawa kepada pertumapahan darah yang berkepenjangan selama 40 tahun (dua keturunan), terrorisme negara, perlawanan dan penindasan, yang akhirnya membawa gerombolan2 serdadu Jawa ke pucuk pemerintahan "indonesia" Jawa. Kini pedang Belanda yang berlumur darah sudah diganti dengan ujung senapang serdadu2 Jawa dengan propaganda untuk menjaga kesatuan "bangsa indonesia" untuk menjamin "indonesia" tetap terbuka untuk diperas oleh Belanda dan kaum imperialis Barat yang lain sebgai sumber bahan mentah yang murah untuk industri mereka. Wartawan2 Barat memuji-muji keadaan ini sebagai satu "kemajuan ekonomi" dan "pembangunan"! (10)

"Nasionalisme indonesia" dan Negara Serdadu Jawa

Bahwa telah berdirinya negara serdadu Jawa kolonialis adalah satu bukti tentang tidak adanya "nasionalisme indonesia" itu, dari dahulu sampai sekarang. "Indonesia" - tidak termasuk Atjh - adala

Make your own free website on Tripod.com